Daftar Isi

Zaman Fitnah Ini, Berpeganglah kepada Tali Allah

Hidup di era akhir zaman menghadirkan tantangan spiritual dan sosial yang luar biasa kompleks. Gelombang fitnah datang bertubi-tubi dari berbagai penjuru—baik berupa perpecahan di antara sesama muslim, penyimpangan akidah, kesesatan pemikiran, hingga maraknya disinformasi, kebohongan rekayasa, dan tuduhan yang memecah belah umat. Dalam kondisi yang penuh kekeruhan ini, manusia sering kali kehilangan kompas moral dan terseret dalam pertikaian yang merugikan.

Lantas, ke manakah seorang muslim harus melangkah ketika fitnah mengepung kehidupan? Jawabannya terletak pada warisan abadi Rasulullah Muhammad SAW: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berpegang teguh pada Tali Allah (Hablullah) adalah satu-satunya jalan keselamatan (najat) yang akan membimbing hamba melewati badai ujian akhir zaman.

Berikut adalah perenungan dan kajian mendalam mengenai pentingnya kembali kepada Tali Allah di era fitnah.


Islam telah mengajarkan bahwa ketika perselisihan, penyimpangan, atau kebingungan melanda umat, jalan terbaik bukan dengan mengedepankan hawa nafsu, kebencian, atau ego kelompok, melainkan dengan mengembalikan seluruh perkara kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 59)

Rasulullah SAW juga telah memberikan jaminan keselamatan dalam sabda beliau:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Artinya: “Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya: Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim)


Perpecahan dan saling memusuhi hanya akan melemahkan kekuatan umat Islam. Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersatu di bawah naungan ikatan agama (Hablullah) dan melarang keras sikap bercerai-berai:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Ikatan iman adalah satu-satunya perekat sejati yang mampu menyatukan hati manusia dari berbagai latar belakang, sekaligus menyelamatkan mereka dari jurang kehancuran.


Di tengah maraknya tipu daya dan kezaliman di dunia, seorang muslim diajarkan untuk bersikap bijak, tenang, dan tidak mudah terpancing emosi:

  1. Menghindari Kerusuhan dan Kerusakan: Tidak terpancing untuk melakukan tindakan anarkis atau merusak ketenteraman umum.
  2. Sabar atas Tipu Daya Manusia: Meyakini bahwa Allah SWT tidak pernah tidur dan tidak dapat ditipu. Siapa pun yang berbuat curang atau zalim, meskipun tampak lolos di dunia, kelak di akhirat tidak akan sanggup menghindar dari balasan keadilan Ilahi.
  3. Mengukur Diri dan Tidak Membebani Batin: Fokus pada perbaikan diri (ishlah) dan masyarakat sesuai batas kemampuan. Tidak perlu menguras energi batin untuk melayani kebencian yang hanya mengganggu ketenangan hidup.

Manusia tidak boleh merasa paling suci (tazkiyatun nafs) atau merasa aman dari kesalahan. Ketika kita mampu terhindar dari perbuatan buruk, perpecahan, atau kesesatan, sejatinya itu bukanlah semata-mata karena kehebatan atau kecerdasan kita, melainkan atas hidayah, taufik, dan perlindungan Allah SWT.

Allah yang menguasai seluruh hati manusia. Oleh karena itu, di samping berikhtiar menjaga lisan dan perbuatan, hendaknya kita senantiasa mendoakan kebaikan bagi sesama muslim serta memohon agar dianugerahi akhir hidup yang selamat (husnul khatimah).


Menghadapi fitnah akhir zaman memerlukan keteguhan sikap dan kebersihan hati:

  • Kembali pada Panduan Syariat: Jadikah Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pemutus kata dalam setiap perselisihan.
  • Eratkan Tali Persaudaraan: Utamakan persatuan di atas Tali Allah daripada kepentingan egoisme.
  • Jaga Kedamaian Jiwa: Hadapi ujian dengan sabar, ikhlas, dan prasangka baik kepada Allah.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan untuk tetap berpegang teguh pada tali-Nya dan mengaruniai kita keselamatan di dunia maupun akhirat. Âmîn ya Rabbal ‘alamîn.


Disadur dari artikel tulisan Ibnu Anwar (via Eramuslim).