Daftar Isi

Waspada Pemikiran Perusak Iman

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akal dan ilmu pengetahuan. Kemampuan berpikir merupakan salah satu keistimewaan terbesar manusia yang membedakannya dari makhluk lainnya. Oleh karena itu, Al-Qur’an secara konsisten mendorong umat manusia untuk menggunakan akal pikiran guna memahami tanda-tanda kebesaran Allah, merenungi ciptaan-Nya, serta menggali hikmah di balik setiap peristiwa kehidupan.

Di dalam bahasa Al-Qur’an, orang yang menggunakan akalnya dengan baik sering disebut dengan istilah Ulul Albab atau Ulin Nuha. Sebaliknya, mereka yang enggan berpikir mendapat celaan dan teguran keras karena dianggap menafikan nikmat akal. Al-Qur’an sering kali menegur mereka dengan ungkapan:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Artinya: “Tidakkah kamu menggunakan akalmu?”

Maka tidak mengherankan jika wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah perintah untuk memaksimalkan potensi akal melalui aktivitas membaca yang dilandasi keimanan kepada Sang Pencipta:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)


Melihat begitu vitalnya peran akal, tantangan paling mendasar yang dihadapi umat Islam dewasa ini sebenarnya bukan semata-mata masalah ekonomi, politik, sosial, atau militer, melainkan tantangan pemikiran (perang pemikiran / ghazwul fikri). Berbagai masalah yang timbul di bidang politik maupun sosial, jika dilacak akar masalahnya, sering kali bermuara pada kerancuan berpikir.

Tantangan pemikiran ini hadir dari dua arah: internal dan eksternal.

Tantangan dari dalam diri umat Islam sendiri berupa kejumudan (kebekuan berpikir), fanatisme buta, taqlid (mengikuti tanpa dasar), serta maraknya bid’ah dan khurafat. Kondisi ini mengakibatkan serampangan dan lambatnya proses ijtihad dalam merespons berbagai persoalan kontemporer.

Tantangan dari luar berupa masuknya berbagai paham, konsep, dan cara pandang asing yang sekuler ke dalam wacana keagamaan Islam. Paham-paham tersebut meliputi sekularisme, liberalisme, pluralisme agama, relativisme, hingga feminisme/gender. Akibatnya, terjadi kerancuan berpikir dan kebingungan intelektual di kalangan muslim, sehingga mereka mulai memandang Islam dengan kacamata Barat yang sekuler dan relativistik.


Kerusakan paling nyata terjadi saat paham-paham perusak iman ini diadopsi oleh sebagian intelektual muslim sendiri. Atas nama pembaruan (tajdid), mereka justru menyuarakan pemikiran yang menyimpang dari prinsip dasar syariat Islam:

  • Relativisme Kebenaran: Mereka mengklaim bahwa nilai dan kebenaran agama bersifat relatif. Agama dianggap tidak berhak mengklaim kebenaran absolut (truth claim), melainkan kebenaran itu hanyalah persepsi manusia yang berubah-ubah.
  • Penyimpangan Sosial: Dengan dalih hak asasi manusia dan gender, sebagian dari mereka mulai membolehkan pernikahan sesama jenis serta menggugat hukum waris Islam (pembagian 1 banding 2 antara laki-laki dan perempuan) yang dituduh sebagai bentuk ketidakadilan.
  • Keraguan terhadap Hukum Syariat: Mereka memandang penerapan hukum pidana Islam (hudud) seperti qishas bagi pembunuh dan rajam bagi pezina yang telah menikah sebagai hukum yang kejam dan tidak berperikemanusiaan.
  • Mendekonstruksi Al-Qur’an: Mereka beranggapan bahwa Al-Qur’an diturunkan hanya untuk merespons situasi sosial budaya Arab zaman dahulu, sehingga teksnya tidak lagi relevan atau tidak wajib diamalkan persis seperti saat ia diturunkan di zaman modern ini.

Mereka yang terpapar pemikiran merusak ini akan mengukur segala sesuatu dengan standar Barat: memandang ekonomi dengan kapitalisme, politik dengan sekularisme, kebudayaan dengan modernisme, serta memandang syariat Islam dengan relativisme.


Tantangan pemikiran ini merupakan ujian keimanan yang sangat nyata di era modern. Sejarah menunjukkan bahwa umat Islam akan mundur jika mereka terkena racun keraguan (syubhat) pemikiran lalu meninggalkan prinsip ajaran agamanya. Sebaliknya, umat Islam akan meraih kejayaan jika mereka senantiasa berpegang teguh pada prinsip-prinsip syariat Islam dengan akal yang terbimbing oleh wahyu.

Untuk itu, marilah kita senantiasa menjaga keimanan kita dengan cara:

  1. Terus Menuntut Ilmu Syar’i: Memahami Islam dari sumbernya yang murni dengan bimbingan para ulama yang tepercaya agar memiliki tameng dari syubhat.
  2. Memaksimalkan Akal yang Terbimbing: Menggunakan akal pikiran untuk merenungkan kebesaran Allah dan kemuliaan syariat-Nya, bukan untuk menggugat ketetapan-Nya yang mutlak.
  3. Mewaspadai Paham Asing: Bersikap kritis terhadap berbagai pemikiran modern yang bertentangan dengan akidah dan moralitas Islam.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga akal dan hati kita dari berbagai pemikiran menyesatkan yang dapat merusak keimanan kita, serta mematikan kita dalam keadaan menetapi iman dan Islam yang murni. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.


Disadur dari Materi Khutbah Jumat Ustadz Amir Sahidin, M.Ag. (Dakwah.id).