Daftar Isi

Ulama Pewaris Nabi dan Ulama Pewaris Nafsu

Ulama sejati memiliki kedudukan yang sangat mulia di dalam Islam. Mereka adalah pewaris para Nabi—tidak hanya mewarisi khazanah keilmuan, tetapi juga mengemban amanah berat dakwah di tengah umat. Karenanya, seluruh gerak-gerik dan sikap ulama sejati akan senantiasa mencontoh jejak langkah para nabi terdahulu, termasuk dalam bersikap terhadap para pemegang kekuasaan.

Di sisi lain, sejarah dan realitas hari ini juga memperlihatkan adanya golongan ulama yang mengorbankan ilmu dan prinsip agama demi kepentingan duniawi, kekuasaan, atau popularitas. Kelompok inilah yang sering diistilahkan sebagai ulama pewaris nafsu (ulama su’). Mengetahui perbedaan mendasar di antara keduanya sangat penting agar kita tidak keliru dalam memilih panutan.


Jika kita menilik kisah para nabi di dalam Al-Qur’an, interaksi mereka dengan kekuasaan terbagi menjadi tiga golongan utama. Jejak inilah yang diwarisi oleh para ulama sejati:

Nabi Daud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimas salam adalah contoh nabi yang memegang kekuasaan tertinggi di masanya. Mereka menggunakan kekuasaan absolut tersebut semata-mata untuk menegakkan keadilan dan syariat Allah SWT.

  • Pewarisnya: Para sahabat mulia seperti Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Mereka adalah ulama besar sekaligus pemimpin negara yang membawa Islam ke masa kejayaan tanpa pernah terbuai oleh gemerlapnya takhta.

Nabi Yusuf ‘alaihissalam secara sadar meminta jabatan penting di kerajaan Mesir untuk menyelamatkan masyarakat dari bencana kelaparan panjang sekaligus berdakwah menegakkan tauhid.

  • Pewarisnya: Para ulama yang dekat dengan penguasa, bukan untuk mencari kekayaan pribadi atau menjadi penjilat, melainkan untuk memberikan nasihat dan menjaga penguasa tetap di jalan yang benar. Contohnya adalah Imam Malik. Meskipun dekat dengan khalifah, beliau tetap kritis. Beliau bahkan pernah disiksa secara fisik karena mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan kebijakan penguasa.

Para nabi Ulul Azmi seperti Nabi Ibrahim yang berhadapan dengan Namrud, Nabi Musa yang menentang Firaun, dan Nabi Muhammad SAW yang melawan para pembesar Quraisy.

  • Pewarisnya: Para ulama yang berdiri tegak menantang kezaliman rezim. Contohnya adalah Said bin Jubair yang dihukum mati karena mengkritik Gubernur zalim Al-Hajjaj bin Yusuf, atau Imam Ahmad bin Hanbal yang dipenjara dan disiksa bertahun-tahun demi mempertahankan akidah yang benar dari doktrin menyimpang penguasa.

Di zaman sekuler saat ini, peran agama sering kali dipisahkan dari urusan pemerintahan, dan ulama yang vokal mengoreksi penguasa kerap disingkirkan. Di sinilah kita harus jeli mengidentifikasi karakter ulama sejati:

AspekUlama Pewaris Nabi (Rabbani)Ulama Pewaris Nafsu (Su’)
Sikap Terhadap KezalimanLantang menyuarakan kebenaran (al-haq) dan berdiri paling depan mencegah kezaliman.Memilih diam, mencari pembenaran atas kezaliman, atau bahkan menjadi corong stempel kebijakan zalim.
Sikap Terhadap PenguasaMenjaga jarak secara spiritual (wara’), menasihati secara tulus, dan menolak suap jabatan/dana.Menjadi penjilat kekuasaan demi mendapatkan kemudahan materi, proyek, posisi, atau bantuan dana.
Definisi KeulamaanDikenal dari kedalaman ilmu, ketakwaan, serta konsistensinya membela umat.Ditentukan oleh jabatan struktural ormas atau setingan popularitas media televisi semata.

Mengikuti ulama pewaris nafsu hanya akan menyesatkan umat ke jurang kekeliruan. Di akhirat kelak, sikap taklid buta (fanatik) kepada panutan yang menyesatkan tidak dapat dijadikan alasan untuk menuntut bebas dari azab. Allah SWT menggambarkan penyesalan para pengikut di hari kiamat:

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ…

Artinya: “Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’…” (QS. Al-Baqarah: 166-167)


Ulama sejati adalah lentera umat yang membawa ketenteraman dan kebenaran. Mereka tidak dapat dibeli dengan materi ataupun ditekan dengan ancaman. Semoga Allah SWT senantiasa membuka mata hati kita agar mampu membedakan mana ulama pewaris Nabi dan mana ulama pewaris nafsu, serta menjaga para ulama rabbani di sekeliling kita dari segala makar buruk.


Disadur dari Materi Khutbah Jumat Ustadz Sodiq Fajar (Dakwah.id).