Daftar Isi

Sedekah Air di Musim Kemarau

Musim kemarau panjang sering kali mendatangkan ujian berat bagi sebagian saudara-saudara kita. Terik matahari yang menyengat, udara kering berdebu, persawahan mengering, hingga sumur-sumur warga yang kehabisan pasokan air bersih. Aktivitas rumah tangga terhambat, bahkan nafkah sebagian petani terputus karena gagal bercocok tanam. Pada saat seperti inilah kita menyadari betapa mahalnya nikmat air yang sering kali kita sia-siakan.

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT berulang kali menegaskan bahwa air adalah sumber utama kehidupan:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

Artinya: "…dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?" (QS. Al-Anbiyā`: 30)

Allah juga mengajak manusia untuk merenungi nikmat air bersih yang layak minum:

اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ لَوْ نَشَاۤءُ جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin (pahit), mengapa kamu tidak bersyukur?” (QS. Al-Wāqi’ah: 68-70)

Salah satu bentuk syukur terbaik atas melimpahnya nikmat air pada diri kita adalah dengan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan melalui sedekah air.


Membantu menyediakan air bagi orang yang kehausan atau daerah yang dilanda kekeringan memiliki keutamaan yang luar biasa di sisi Allah SWT dan Rasul-Nya.

Saat ibunda sahabat Saad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu wafat, beliau ingin mempersembahkan amal jariah atas nama sang ibu. Beliau bertanya kepada Rasulullah SAW:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ: فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: سَقْيُ الْمَاءِ

Artinya: “Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat. Bolehkah aku bersedekah atas nama beliau?” Rasulullah menjawab, “Boleh.” Saad bertanya lagi, “Sedekah apa yang paling utama?” Rasulullah menjawab, “Memberi air minum (sedekah air).” (HR. An-Nasai No. 3664)

Setetes air yang kita berikan untuk meringankan dahaga sesama di dunia akan dibalas Allah dengan minuman terbaik di akhirat kelak:

أَيَّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَأ سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ

Artinya: “Muslim mana pun yang memberi minum muslim lain yang kehausan, kelak Allah akan memberinya minum dari ar-Rahiq al-Makhtum (arak suci/minuman tersegel di surga).” (HR. Abu Daud No. 1682)

Sedekah air, bahkan kepada makhluk selain manusia, memiliki bobot pahala yang sangat berat. Kita tentu sering mendengar kisah shahih tentang seorang pria yang mengasihani seekor anjing yang kehausan dengan memberinya minum menggunakan sepatunya. Rasulullah SAW menyatakan bahwa atas amalannya itu:

فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا؟ قَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Artinya: "…maka dia bersyukur kepada Allah, lalu Allah mengampuni dosanya." Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapatkan pahala dengan berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab, “Terhadap setiap makhluk bernyawa (yang memiliki limpa basah) ada pahala.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)


Sedekah air tidak hanya terbatas pada membagikan air minum kemasan atau tangki air bersih darurat ke wilayah bencana kekeringan. Nilai kemanfaatannya akan berlipat ganda jika diwujudkan dalam bentuk amal jariah jangka panjang, seperti:

  • Pembuatan Sumur Bor: Menggali sumur di wilayah pemukiman gersang agar airnya bisa terus dimanfaatkan untuk kebutuhan harian.
  • Pembangunan Telaga/Tandon Air: Seperti yang dilakukan Saad bin Ubadah yang membangun telaga untuk menampung air bagi masyarakat Madinah.

Dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ (8/408), Imam adz-Dzahabi meriwayatkan bahwa ada seorang pria yang mengeluhkan luka lututnya yang tak kunjung sembuh selama 7 tahun kepada ulama Ibnul Mubarak. Setelah berbagai pengobatan medis gagal, Ibnul Mubarak menyarankannya:

“Pergilah, galilah sumur di tempat yang penduduknya sangat membutuhkan air. Aku berharap sumur itu memancarkan air dan menghentikan pendarahan luka di lututmu.”

Pria tersebut melaksanakannya, dan atas izin Allah, luka lututnya sembuh total setelah sumur itu selesai digali.


Sedekah air di musim kemarau mungkin terlihat sederhana di mata kita, namun di hadapan Allah SWT, amalan ini bernilai sangat agung. Ia merupakan wujud nyata kepedulian sosial (ukhuwah) sekaligus bukti ketakwaan kita. Di tengah musim kering ini, mari kita satukan langkah untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang kesulitan air, agar kelak Allah SWT juga meringankan dahaga kita di hari kiamat.


Disadur dari Materi Khutbah Jumat Ustadz Sodiq Fajar (Dakwah.id).