Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur

Pendahuluan
Bersyukur merupakan salah satu buah ketakwaan yang paling agung. Seorang mukmin yang bertakwa akan menyadari bahwa seluruh nikmat yang ia rasakan—baik yang besar maupun yang tampak sederhana—murni bersumber dari kemurahan Allah SWT, Rabb semesta alam.
Sejak kita membuka mata di pagi hari, kita telah diselimuti oleh samudera nikmat-Nya: udara bersih yang kita hirup secara gratis, detak jantung yang terus berjalan tanpa diperintah, mata yang masih mampu melihat keindahan dunia, hingga lisan yang masih dianugerahi kemampuan untuk menyebut nama-Nya. Namun, sebagai manusia, kita sering kali lebih mudah mengingat satu kekurangan kecil daripada merenungkan ribuan karunia yang telah melimpah ruah.
Keutamaan Bersyukur dan Janji Allah
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan janji yang sangat agung bagi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Tambahan nikmat di sini bukan sekadar tentang bertambahnya kuantitas harta atau pencapaian duniawi. Lebih dari itu, ia adalah janji tentang hadirnya keberkahan dan kelapangan hati. Tidak sedikit manusia yang hartanya melimpah namun hidupnya terasa sempit dan gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup dalam kesederhanaan, namun hatinya tenang, keluarganya tenteram, dan ibadahnya terasa nikmat. Itulah esensi dari tambahan nikmat yang sesungguhnya.
Meskipun nikmat Allah tak terhingga, Allah mengingatkan bahwa sangat sedikit manusia yang benar-benar bisa menunaikan syukur ini:
وَقَلِيلٌ مِّنِ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Artinya: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Meneladani Syukur Rasulullah SAW
Jika kita ingin belajar mengenai hakikat syukur, maka teladan terbaik kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah seorang nabi yang telah dijamin masuk surga dan telah diampuni seluruh dosanya yang lalu maupun yang akan datang. Namun, jaminan mulia tersebut tidak membuat beliau lalai.
Sebaliknya, Rasulullah SAW justru menjadi orang yang paling panjang shalat malamnya, bahkan hingga kedua kaki beliau bengkak. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya keheranan, “Mengapa engkau melakukan ini, wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”
Rasulullah SAW menjawab dengan indah:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Artinya: “Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang pandai bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau tidak beribadah karena takut akan siksa atau semata-mata mengejar pahala, melainkan karena didorong oleh rasa cinta dan syukur yang mendalam di dalam dadanya. Beliau juga mendidik umatnya untuk senantiasa menyadari nikmat dalam keseharian melalui doa-doa yang diawali dengan pujian kepada Allah, seperti:
- Bangun Tidur:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami (tidur), dan kepada-Nyalah kebangkitan.” (HR. Bukhari)
- Setelah Makan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
- Memakai Pakaian:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلَا قُوَّةٍ
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku pakaian ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
Bagi seorang mukmin, syukur bukanlah ibadah musiman, melainkan embusan napas yang mengiringi setiap aktivitas hidup.
Tiga Rukun Syukur
Para ulama menjelaskan bahwa syukur yang sesungguhnya (untuk menjadi Abdan Syakuran—hamba yang pandai bersyukur) harus memenuhi tiga rukun yang saling mengikat:
1. Syukur dengan Hati (Al-Qalb)
Hati harus jujur mengakui dan meyakini bahwa setiap nikmat yang kita terima murni datang dari Allah SWT. Kita harus membersihkan hati dari sifat angkuh dan merasa bahwa kesuksesan yang kita raih semata-mata karena kehebatan, kecerdasan, atau kerja keras kita sendiri.
2. Syukur dengan Lisan (Al-Lisan)
Lisan senantiasa basah memuji Allah dengan mengucapkan kalimat tahmid (Alhamdulillah) serta menyebut-nyebut nikmat-Nya dengan niat mengagungkan Sang Pemberi Nikmat (tahadduth bin-ni’mah), bukan untuk pamer atau menyombongkan diri.
3. Syukur dengan Anggota Badan (Al-Jawarih)
Rukun ini adalah pembuktian nyata dari syukur kita. Wujudnya adalah menggunakan setiap nikmat yang Allah berikan sebagai sarana untuk meningkatkan ketaatan kepada-Nya:
- Nikmat Harta: Digunakan untuk bersedekah, menolong sesama, dan dijaga dari hal-hal yang haram.
- Nikmat Ilmu: Diamalkan secara ikhlas dan diajarkan untuk membimbing sesama tanpa rasa sombong.
- Nikmat Kesehatan: Digunakan untuk melangkahkan kaki ke masjid, beribadah, dan berbuat kebaikan.
- Nikmat Waktu Luang: Diisi dengan hal-hal yang produktif, menuntut ilmu, dan berdzikir.
- Nikmat Jabatan: Digunakan untuk menegakkan keadilan dan mempermudah urusan umat.
- Nikmat Keluarga: Dididik dengan penuh kesabaran agar tumbuh menjadi generasi yang taat.
- Nikmat Indera (Mata, Telinga, Lisan): Dijaga dari hal-hal yang diharamkan Allah.
Tanpa pembuktian dari anggota badan, syukur kita belumlah sempurna. Kita baru sampai pada tahap “pandai berucap”, belum menjadi Abdan Syakuran.
Dua Nikmat yang Paling Sering Melalaikan
Rasulullah SAW secara khusus mengingatkan kita akan dua nikmat yang paling sering membuat manusia terlena dan merugi:
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya: “Ada dua nikmat yang membuat banyak manusia tertipu dan merugi, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Sering kali kita baru menyadari betapa berharganya kesehatan ketika kita terbaring sakit di rumah sakit. Kita baru menyadari mahalnya waktu luang ketika kesibukan atau maut telah datang menjemput.
Perlu kita ingat pula bahwa setiap nikmat yang dititipkan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Artinya: “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)
Waspada Terhadap Sindrom Qarun
Mengapa manusia mudah lalai dari bersyukur? Penyebab utamanya adalah karena hati terlalu fokus pada diri sendiri dan melupakan Sang Pemberi Nikmat. Penyakit inilah yang dahulu membinasakan Qarun. Ketika ia diingatkan untuk bersyukur atas kekayaannya, ia dengan sombong berkata:
إِنَّمَا أُوْتِيْتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِيْ
Artinya: “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)
Mungkin kita tidak pernah mengucapkannya secara langsung, namun jangan-jangan ada bisikan halus di dalam hati kita saat sukses diraih: “Ini berkat kehebatanku, berkat strategiku, berkat usahaku.” Kita lupa bahwa kecerdasan untuk berpikir, kesehatan untuk bekerja, dan kesempatan untuk berusaha semuanya datang dari Allah.
Mari kita ubah cara pandang kita terhadap dunia: jangan merasa memiliki, melainkan merasa dititipi. Karena apa pun yang ada di genggaman kita hari ini, suatu saat pasti akan terlepas dan dimintai pertanggungjawabannya.
Nikmat Lahir dan Batin
Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 20:
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً
Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin.” (QS. Luqman: 20)
Nikmat yang tampak (zahir) sangat mudah kita kenali: kesehatan fisik, kelapangan rezeki, dan kehangatan keluarga. Namun nikmat yang tidak tampak (batin) sering kali jauh lebih besar nilainya: nikmat iman dan Islam, hidayah yang membimbing langkah kita, dosa-dosa kita yang ditutupi oleh Allah dari pandangan manusia, hingga musibah-musibah yang dipalingkan dari kita tanpa pernah kita ketahui.
Jangan menunggu sakit untuk mensyukuri kesehatan. Jangan menunggu sempit untuk menghargai kelapangan. Dan jangan menunggu perpisahan atau kematian untuk menyadari bahwa setiap detik kehidupan adalah karunia terindah dari Allah SWT.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang sedikit, yaitu mereka yang pandai bersyukur. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Disadur dari Materi Khutbah Jumat Ustadz Muhammad Faishal Fadhli (Dakwah.id).




