Islam Hadir Memuliakan Manusia

Pendahuluan
Kehidupan dunia yang penuh warna sering kali membuat manusia terlena dan alpa. Di tengah kesibukan menumpuk harta, mengejar karier, dan memenuhi keinginan materi, kita sering kali melupakan esensi dasar dari keberadaan kita di muka bumi ini. Allah SWT mengingatkan kembali tujuan penciptaan manusia di dalam Al-Qur’an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dunia yang kita tempati hari ini sangatlah berbeda dengan surga—tempat asal nenek moyang kita, Nabi Adam ‘alaihissalam. Surga adalah tempat kenikmatan abadi di mana segala keinginan diperbolehkan tanpa ada larangan. Sebaliknya, dunia dirancang sebagai ladang ujian yang bersifat sementara, penuh dengan aturan, batasan, dan kerja keras.
Agar kehidupan dunia yang penuh dinamika ini tetap berjalan harmonis dan keselamatan kita di akhirat kelak tetap terjaga, Allah SWT menurunkan syariat Islam. Islam hadir bukan untuk mempersulit, melainkan untuk memuliakan manusia.
Petunjuk Allah: Penepis Rasa Takut dan Sedih
Ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, Allah menjanjikan petunjuk bagi keturunannya agar mereka selamat dalam menjalani kehidupan duniawi.
قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Artinya: “Kami berfirman, ‘Turunlah kamu semua dari surga! Lalu, jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati.’” (QS. Al-Baqarah: 38)
Ketaatan kepada syariat Allah membuahkan ketenteraman batin yang luar biasa di dunia serta kebahagiaan di akhirat. Orang yang beriman tidak akan didera kekhawatiran berlebih karena mereka menyandarkan segala urusan kepada Rabb Yang Mahakaya lagi Mahabijaksana.
Sebaliknya, pengabaian terhadap syariat Allah dan kemaksiatan hanya akan menyuburkan rasa takut, gelisah, dan kekhawatiran di dalam hati manusia:
سَنُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَٓا اَشْرَكُوْا بِاللّٰهِ
Artinya: “Kami akan memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang yang kafir karena mereka mempersekutukan Allah…” (QS. Ali Imran: 151)
Setiap Perintah Adalah Nikmat, Setiap Larangan Adalah Penyelamat
Bila kita merenungkan setiap aturan dalam Islam, kita akan menyadari bahwa semua syariat bertujuan untuk kebaikan manusia itu sendiri.
Perintah Allah diturunkan untuk membersihkan jiwa dan menyempurnakan nikmat kehidupan:
مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: “Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah: 6)
Larangan Allah ditetapkan demi melindungi manusia dari bahaya yang jauh lebih besar daripada manfaat sesaat yang bisa didapatkan. Misalnya larangan mengonsumsi khamar (minuman keras) dan berjudi:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. (Akan tetapi,) dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)
Kesabaran: Kunci Kemuliaan yang Hakiki
Kunci utama agar manusia meraih kemuliaan di dunia dan akhirat adalah kesabaran dalam menaati Allah serta senantiasa berbaik sangka (husnuzhan) atas segala ketetapan-Nya. Saat ujian hidup datang mendera, ketahuilah bahwa Allah telah menyiapkan kemudahan setelahnya:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Sikap buruk sangka kepada Allah saat ditimpa cobaan hanya akan menjerumuskan seseorang ke dalam kerugian yang nyata di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ِۨاطْمَئَنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ِۨانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ
Artinya: “Di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi (tidak penuh keyakinan). Jika memperoleh kebaikan, dia pun tenang. Akan tetapi, jika ditimpa cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)
Kesimpulan
Islam bukanlah belenggu yang membatasi kebebasan manusia, melainkan kompas penunjuk jalan yang menuntun manusia agar hidup mulia dan bermartabat. Dengan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, kita sedang menjaga kesucian jiwa kita serta mengamankan kebahagiaan sejati di akhirat kelak. Semoga Allah karuniakan kita keistiqamahan untuk selalu berada di bawah naungan petunjuk-Nya yang agung.
Disadur dari Materi Khutbah Jumat Ustadz Fahrurozi, M.Pd. (Dakwah.id).




