Al-Quran dan As-Sunnah: Pedoman dan Ruh Kehidupan

Pendahuluan
Secara mutlak, setiap manusia memerlukan pegangan dan pedoman dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Tanpa adanya pedoman yang jelas, ia akan terombang-ambing bagaikan sehelai bulu yang diterbangkan angin kencang—tanpa arah, tanpa kejelasan, dan tanpa kepastian tujuan. Bagi seorang muslim, tujuan akhir dari kehidupan ini sudah sangat jelas, yaitu menggapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat demi meraih ridha Allah SWT.
Untuk mencapai tujuan yang agung tersebut, Allah SWT tidak membiarkan manusia berjalan dalam kegelapan. Dia mewajibkan umat Islam untuk menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pedoman utama. Bahkan lebih dari sekadar buku panduan, keduanya harus meresap menjadi ruh kehidupan yang menggerakkan setiap tarikan napas dan aktivitas kita sehari-hari.
Al-Quran Sebagai Ruh dan Cahaya
Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengistilahkan wahyu-Nya sebagai “ruh” karena ia memberikan kehidupan spiritual bagi jiwa manusia yang sebelumnya mati dalam kegelapan jahiliyah:
وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗوَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ
Artinya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Quran) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Quran itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52)
Begitu eratnya kaitan kehidupan Rasulullah SAW dengan wahyu, hingga Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menggambarkan akhlak beliau dengan menyatakan: “Akhlak beliau adalah Al-Quran.” Beliau adalah representasi Al-Qur’an yang berjalan di muka bumi.
Siapa saja yang berpegang teguh pada keduanya dijamin tidak akan pernah tersesat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW saat Haji Wada’:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian suatu perkara yang jika kalian pegang teguh niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim)
Tiga Cara Menjadikan Al-Qur’an & Sunnah Sebagai Ruh Kehidupan
Untuk mengimplementasikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai ruh di dalam keseharian kita, ada tiga langkah nyata yang harus kita tempuh:
1. Menjadikan Keduanya Rujukan Utama (Al-Marji’)
Ketika kita menghadapi perselisihan, keraguan, atau perbedaan pendapat dalam urusan apa pun, rujukan pertama dan terakhir kita haruslah Al-Quran dan As-Sunnah, bukan logika bebas manusia atau opini mayoritas semata.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ…
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya)…” (QS. An-Nisa’: 59)
2. Menjadikan Keduanya Standar Penilaian (Al-Miyar)
Al-Quran dan As-Sunnah harus diletakkan sebagai alat ukur (standar) untuk menilai pemikiran, budaya, adat, falsafah, dan aturan modern. Kebudayaan atau aturan modernlah yang harus tunduk dan menyesuaikan diri dengan Islam, bukan sebaliknya di mana ajaran Islam diubah atau dipotong-potong agar sejalan dengan selera zaman.
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ…
Artinya: “Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya (diserahkan) kepada Allah…” (QS. Asy-Syura: 10)
3. Memberlakukan Hukum-Hukum Keduanya secara Menyeluruh
Kita tidak boleh bersikap tebang pilih (parsial) terhadap ajaran Islam—mengambil aturan yang sesuai dengan hawa nafsu dan membuang yang dirasa berat. Kita wajib tunduk pada semua hukum-Nya dalam seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, moral, muamalah, maupun hukum pidana.
Belajar dari Generasi Terbaik (Para Sahabat)
Di dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb menjelaskan tiga rahasia utama mengapa generasi sahabat radhiyallahu ‘anhum berhasil menjadi generasi terbaik yang tiada duanya di sepanjang sejarah manusia:
- Kemurnian Sumber: Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber petunjuk dan membuang jauh-jauh sumber pemikiran asing lainnya.
- Orientasi Amal: Mereka membaca Al-Qur’an bukan sekadar untuk pengetahuan (tsaqafah) atau keindahan sastra, melainkan langsung untuk diamalkan dalam kehidupan nyata.
- Pemutusan Masa Lalu: Mereka memotong total segala keterikatan batin dan pemikiran jahiliyah masa lalu mereka dan memulai lembaran hidup yang sepenuhnya baru bersama Islam.
Kesimpulan
Kemuliaan umat Islam sangat bergantung pada seberapa erat mereka memegang teguh pedoman agung ini. Rasulullah SAW mengingatkan dalam haditsnya:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Quran), dan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim)
Mari jadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai cahaya penuntun langkah kaki kita dan ruh yang menghidupkan hati sanubari kita.
Disadur dari Materi Khutbah Jumat Ustadz Hamid S. (Dakwah.id).




