Daftar Isi

10 Tanda Lemahnya Iman

Dalam akidah Islam, kita meyakini dengan pasti bahwa iman bersifat fluktuatif—ia dapat bertambah (yaziid) dan juga dapat berkurang (yanqush). Iman akan bertambah kuat dengan ketaatan serta amal saleh, dan sebaliknya akan melemah dengan kemaksiatan, kelalaian, dan dosa.

Melemahnya iman bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa gejala. Ada tanda-tanda yang jelas ketika kondisi spiritual seseorang sedang menurun. Mengenali tanda-tanda lemahnya iman sangat penting bagi setiap muslim sebagai bahan evaluasi (muhasabah) diri sehari-hari agar kita dapat segera memperbaiki diri sebelum iman merosot lebih jauh.

Berikut adalah 10 tanda lemahnya iman yang perlu kita waspadai:


Tanda paling kasatmata dari melemahnya iman adalah munculnya rasa malas yang luar biasa untuk beribadah. Ketaatan terasa bagai beban berat, dan jika pun dikerjakan, ia dilakukan secara tergesa-gesa tanpa kekhusyukan.

Allah SWT menggambarkan kemalasan ibadah ini sebagai salah satu karakter orang munafik dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ

Artinya: “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa’: 142)

Seseorang yang imannya melemah cenderung meremehkan amal-amal sunnah (nafilah), menunda-nunda shalat wajib tanpa uzur, bahkan bermalas-malasan mendatangi shalat Jumat. Rasulullah SAW memperingatkan:

لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ عَنِ الصَّفِّ الأَوَّلِ حَتَّى يُؤَّخِّرَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى النَّارِ

Artinya: “Tiada henti-hentinya suatu kaum mengakhirkan dari shaf pertama sehingga Allah mengakhirkan mereka dalam neraka.” (HR. Abu Daud)


Ketika iman melemah, benteng pertahanan jiwa runtuh. Akibatnya, dosa-dosa kecil dianggap remeh, dan maksiat dilakukan tanpa ada rasa bersalah. Jika dibiarkan, dosa tersebut akan menjadi kebiasaan, hingga akhirnya pelakunya berani bermaksiat secara terang-terangan tanpa rasa malu.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ…

Artinya: “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan (al-mujahirin)…” (HR. Bukhari dan Muslim)


Padamnya ghirah (cemburu karena agama) di dalam dada adalah tanda nyata lemahnya iman. Seseorang yang imannya rapuh akan bersikap acuh tak acuh ketika melihat kemungkaran di depan matanya. Tidak ada rasa benci di dalam hatinya, apalagi usaha untuk mengubahnya.

Rasulullah SAW menjelaskan tingkatan sikap terhadap maksiat:

إِذَا عُمِلَتْ الْخَطِيئَةُ فِي الْأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا فَكَرِهَهَا وَقَالَ مَرَّةً أَنْكَرَهَا كَانَ كَمَنْ غَابَ عَنْهَا وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَانَ كَمَنْ شَهِدَهَا

Artinya: “Jika ada satu kemaksiatan dikerjakan di muka bumi, maka orang yang melihat lalu membencinya (mengingkarinya), ia seperti orang yang tidak melihatnya. Sedangkan bagi orang yang tidak melihatnya, namun ia ridha dengan kemaksiatan tersebut, maka ia seperti orang yang melihatnya.” (HR. Abu Daud)


Tanda lemahnya iman berikutnya adalah ketika seseorang selalu mencari celah hukum batas bawah. Ia selalu bertanya, “Apakah perbuatan ini dosa atau tidak? Haram atau sekadar makruh?”

Sikap yang menggampangkan perkara makruh dan abu-abu (syubhat) ini lambat laun akan menyeretnya ke dalam jurang keharaman. Hal ini diibaratkan oleh Nabi SAW seperti penggembala di dekat tanah larangan:

كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ

Artinya: “Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menggambarkan perbedaan mukmin dan pendosa dalam memandang dosa:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ…

Artinya: “Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menempel di hidungnya…” (HR. Bukhari)


Iman yang merosot berbanding lurus dengan hilangnya ketenangan jiwa. Dada akan sering terasa sesak, mudah gelisah karena urusan sepele, gampang marah, serta akhlak kepada sesama manusia mulai memburuk. Padahal, hakikat iman adalah kelapangan.

Rasulullah SAW bersabda:

اَلْإِيْمَانُ: اَلصَّبْرُ وَالسَّمَاحَةُ

Artinya: “Iman ialah kesabaran dan kelapangan hati.” (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)


Al-Qur’an dan dzikir adalah makanan pokok bagi ruhani. Ketika iman melemah, seseorang akan kehilangan selera terhadap makanan spiritual ini. Al-Qur’an tergeletak berdebu tanpa disentuh selama berminggu-minggu, dan lisan menjadi kaku dari berdzikir mengingat Allah. Hati pun menjadi keras seperti batu karena jauh dari mengingat-Nya.


Tumbuhnya ambisi yang besar terhadap pujian manusia, popularitas, dan kekuasaan tanpa diiringi rasa takut kepada Allah adalah tanda penyakit iman. Jiwa yang kosong dari keikhlasan akan selalu mencari makan dari pengakuan makhluk.

Nabi SAW memberikan peringatan keras mengenai ambisi jabatan:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat…” (HR. Bukhari)


Mukmin yang sehat imannya akan merasakan kepedihan saudaranya. Jika hati kita sama sekali tidak terenyuh, tidak peduli, bahkan enggan mendoakan kaum muslimin yang tertimpa bencana atau ditindas di berbagai belahan dunia (seperti Uighur, Palestina, Suriah), maka iman kita sedang dalam kondisi kritis.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لِأَهْلِ الْإِيمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِي الرَّأْسِ

Artinya: “Sesungguhnya kedudukan orang mukmin dalam kalangan orang-orang beriman itu laksana kedudukan kepala pada badan; orang mukmin akan merasakan penderitaan yang menimpa orang-orang beriman lainnya sebagaimana jasad ikut merasakan sakit pada kepala.” (HR. Ahmad)


Orang yang imannya lemah cenderung egois secara spiritual dan material. Ia sibuk menimbun harta untuk kepuasan pribadi, namun tidak ada keinginan sedikit pun untuk mendonasikan waktu, tenaga, pikiran, atau hartanya demi kemaslahatan dakwah dan kejayaan umat Islam.

Hal ini sangat kontras dengan karakter para sahabat Nabi seperti Tsumamah bin Atsal yang langsung melakukan embargo ekonomi demi membela dakwah Rasulullah SAW sesaat setelah ia memeluk Islam.


Tanda lemahnya iman yang terakhir adalah tenggelam dalam gaya hidup konsumtif dan bermewah-mewahan. Seluruh fokus hidupnya habis untuk memikirkan makanan lezat, pakaian bermerek, kendaraan mewah, dan tempat tinggal yang megah secara berlebihan.

Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah SAW berpesan:

إِيَّاكَ وَالتَّنَعُّمَ، فَإِنَّ عِبَادَ اللهِ لَيْسُوا بِالْمُتَنَعِّمِينَ

Artinya: “Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah!” (HR. Ahmad)


Iman adalah aset paling berharga yang kita miliki di dunia ini. Dengan mengenali tanda-tanda kelemahan iman di atas, marilah kita melakukan audit spiritual terhadap diri kita masing-masing. Jika kita menemukan tanda-tanda tersebut ada pada diri kita, segeralah bertaubat, merapatkan shaf ibadah, memperbanyak dzikir, dan memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memperbarui iman di dalam dada kita.


Disadur dari Materi Khutbah Jumat Ustadz Sodiq Fajar (Dakwah.id).